Postingan

Prospek Baidu (BIDU), Saham Teknologi Termurah di Nasdaq

Gambar
Bulan Mei 2024 lalu kita sudah membahas saham Alibaba Group Holding (BABA), di mana penulis katakan bahwa prospeknya sangat menarik sebagai saham dari perusahaan teknologi ecommerce salah satu yang terbesar di dunia, tapi valuasinya jauh lebih murah dibanding katakanlah Amazon (AMZN). Dan ternyata benar: BABA sukses naik banyak dari harganya ketika itu di $81 hingga tembus $130 ketika artikel ini ditulis, aka lompat lebih dari 60% hanya dalam waktu tidak sampai sepuluh bulan. Anda bisa baca lagi ulasannya disini . *** Live Webinar How to Invest in US Stocks ,  Sabtu 15 Maret 2025, pukul 08.00 – 10.00 WIB. Untuk mendaftar  klik disini . *** However dengan PBV saat ini yang sudah mencapai 2.4 kali, yang mana belum bisa disebut mahal tapi tentunya tidak semurah kemarin waktu sahamnya masih di $81, maka mungkin sudah terlambat jika anda baru mau masuk ke BABA ini sekarang. Nah, tapi bagaimana jika penulis katakan bahwa masih ada satu lagi saham perusahaan teknologi asal China ya...

Prospek Saham BUMN Setelah Pembentukan Danantara

Gambar
Pada hari Kamis, 13 Februari kemarin, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana peluncuran sovereign wealth fund (SWF) dengan nama Danantara, yang dijadwalkan akan dilakukan pada tanggal 24 Februari. Yang dimaksud dengan SWF itu sendiri, atau kalau di Indonesia disebut Badan Pengelola Investasi atau BPI, adalah lembaga yang mengelola penempatan investasi milik negara pada aset riil maupun aset keuangan, seperti saham, obligasi, logam mulia, hingga investasi alternatif seperti  private equity  dan/atau  hedge fund,  di seluruh dunia. Namun demikian dalam konteks Danantara maka seluruh investasinya akan ditempatkan di Indonesia, dalam rangka mendukung pembangunan di dalam negeri. *** Live Webinar Value Investing Saham Indonesia ,  Sabtu 1 Maret 2025, pukul 08.00 – 10.00 WIB. Untuk mendaftar  klik disini . *** Kemudian, meski cerita tentang Danantara ini sudah beredar luas sejak lama, namun belum ada sumber resmi dari Pemerintah itu sendiri yang secara r...

Live Webinar Value Investing Saham Indonesia, Sabtu 5 April 2025

Gambar
Penulis (Teguh Hidayat) di acara Berkshire Hathaway Annual Meeting 2022 di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, yang dihadiri langsung oleh investor legendaris Warren Buffett dan mitranya Charlie Munger. Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan seminar online (webinar) investasi saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jadi pada webinar ini anda berkesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau konsultasi terkait poin-poin berikut: Analisa serta prospek dari emiten/saham tertentu, tentunya dari sudut pandang fundamental dan value investing, Pengetahuan umum tentang investasi saham, dunia keuangan, hingga ekonomi, termasuk penjelasan lebih detail tentang istilah-istilah tertentu di dunia pasar modal, Prospek dan arah pasar ke depan berdasarkan kondisi makro ekonomi, kinerja terbaru emiten, dll Masukan untuk posisi portofolio anda saat ini, tentang saham-saham apa saja yang harus dijual, hold, atau beli lagi, Diskusi...

Penyebab Anjloknya Saham BREN, CUAN, dan PTRO

Gambar
Pada hari Jumat, 7 Februari 2025, tiga saham yang merupakan bagian dari Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu, yakni Barito Renewables (BREN), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan Petrosea (PTRO), secara bersamaan langsung jeblok hingga ke batas autoreject bawah sejak pembukaan perdagangan (BREN dan CUAN nyungsep  -20% , sedangkan PTRO crash   -25% ), dan tidak mampu naik lagi sampai penutupan. Pertanyaannya, ini ada apa kok tiga saham itu bisa ambruk secara bersamaan? Dan apa yang harus dilakukan kalau saya ada pegang sahamnya? *** Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi Q4 2024 sudah terbit! Dan sudah bisa dipesan disini . Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,500, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis. *** Dan jawaban atas pertanyaan pertama, adalah sebagai berikut: Sehari sebelumnya pada 6 Februari, Morgan Stanley Capital International (MSCI), sebuah perusahaan keuangan asal Amerika...

Prospek GOTO Menjelang Merger Dengan GRAB

Gambar
Akhir-akhir ini di media ramai isu bahwa PT GoTo Gojek Tokopedia, Tbk (GOTO) akan merger dengan Grab Holdings Ltd (GRAB), dan mungkin itu pula yang bikin saham GOTO sejak akhir tahun 2024 kemarin naik lumayan dari 60 perak hingga sekarang 83, berlawanan dengan arah IHSG yang masih cenderung turun. Kemudian, meski dari kedua perusahaan belum ada pengumuman resmi, malah manajemen GOTO kemarin sudah membantah isu merger tersebut, namun penulis percaya bahwa GOTO dan GRAB pada akhirnya nanti memang akan merger. Nah pertanyaannya, ketika nanti mergernya jadi dilakukan maka bagaimana dampaknya terhadap GOTO itu sendiri? Apakah itu akan membuat sahamnya lompat lebih tinggi lagi? *** Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi Q4 2024 akan terbit hari Senin, 10 Februari, dan sudah bisa dipesan disini . Tersedia diskon bagi yang memesan sebelum tanggal 10 Februari, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis. *** Untuk menjaw...

Prospek Cerah Saham BBNI di Tahun 2025

Gambar
Di ulasan sebelumnya kita sudah membahas tentang bagaimana ‘analisa fundamental sudah mati, value investing is dead’ di Bursa Efek Indonesia (BEI) , di mana ada ratusan saham berfundamental bagus termasuk blue chip yang terus saja turun beberapa tahun terakhir ini, tapi sebaliknya ada saham-saham dari grup konglomerasi tertentu yang justru terbang tinggi, tak peduli meski fundamentalnya jelek dan/atau valuasinya amat sangat mahal. Nah, tapi bagaimana kalau penulis katakan bahwa situasi seperti ini justru merupakan golden opportunity untuk beli saham-saham bagus pada valuasi yang bahkan sudah lebih murah dibanding zaman Covid dulu? Yep, salah satunya saham PT Bank Negara Indonesia, Tbk atau Bank BNI (BBNI). Tapi sebelum kita membahas tentang BBNI-nya itu sendiri, maka kita balik lagi ke soal  value investing is dead itu tadi. Perhatikan: Sebenarnya istilah saham berfundamental bagus itu agak misleading, di mana investor pemula menganggap bahwa nama-nama besar di BEI seperti Bank...

Analisa Fundamental Sudah Mati? Investor Mending Beli Saham Bandar Saja?

Gambar
Pak Teguh, ada yang bilang analisa fundamental di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu sudah mati, value investing is dead, bisa lihat sendiri saham-saham berkinerja bagus termasuk yang blue chip sekalipun cenderung turun, sedangkan saham-saham milik grup konglomerasi tertentu justru naik banyak sampai ratusan persen, tak peduli meski valuasinya amat sangat mahal. Jadi lebih baik kita sebagai investor ikut arus saja dengan beli saham-saham grup tersebut. Menurut bapak gimana? *** Ebook Market Planning   edisi Januari 2025 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit. Anda bisa  memperolehnya disini , gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member, dan tersedia diskon selama IHSG masih di bawah 7,500. *** Jawab: Betul belakangan ini ramai lagi istilah value investing is dead, tapi sebetulnya ini bukan kali pertama istilah tersebut muncul. Dulu di tahun 2021 ketika terjadi euforia bank digital ...