Penyebab Anjloknya Saham BREN, CUAN, dan PTRO
Pada hari Jumat, 7 Februari 2025, tiga saham yang merupakan bagian dari Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu, yakni Barito Renewables (BREN), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan Petrosea (PTRO), secara bersamaan langsung jeblok hingga ke batas autoreject bawah sejak pembukaan perdagangan (BREN dan CUAN nyungsep -20%, sedangkan PTRO crash -25%), dan tidak mampu naik lagi sampai penutupan. Pertanyaannya, ini ada apa kok tiga saham itu bisa ambruk secara bersamaan? Dan apa yang harus dilakukan kalau saya ada pegang sahamnya?
***
Ebook
Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham
pilihan edisi Q4 2024 sudah terbit! Dan sudah bisa dipesan
disini. Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,500, serta gratis tanya
jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.
***
Dan jawaban atas pertanyaan pertama, adalah sebagai berikut: Sehari sebelumnya pada 6 Februari, Morgan Stanley Capital International (MSCI), sebuah perusahaan keuangan asal Amerika Serikat yang secara rutin mempublikasikan indeks-indeks saham sebagai panduan bagi investor global untuk berinvestasi di pasar saham di seluruh dunia termasuk Indonesia, mengumumkan sebagai berikut:
Announcement for February 06, 2025 at 09:07 PM GMT. THIS IS AN ANNOUNCEMENT FOR THE MSCI GLOBAL STANDARD INDEXES. TREATMENT OF CERTAIN INDONESIAN SECURITIES AS PART OF THE FEBRUARY 2025 INDEX REVIEW
Following analysis and feedback from market participants on potential investability issues, MSCI will not consider adding the following securities to the MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI) as part of the February 2025 Index Review. BARITO RENEWABLES ENERGY (MSCI Security Code: 56603.01). PETRINDO JAYA KREASI (MSCI Security Code: 54851.01). PETROSEA (MSCI Security Code: 67890.01). MSCI welcomes feedback from all market participants and investors on these securities. MSCI will review eligibility of these securities as part of future index reviews and communicate further as appropriate. THIS IS AN ANNOUNCEMENT FOR THE MSCI GLOBAL STANDARD INDEXES
End of announcement. Further announcements may occur as needed.
Untuk diketahui, MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI) merupakan indeks saham yang diterbitkan oleh MSCI yang terdiri dari 71 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sudah dipilih secara hati-hati, dan rutin dievaluasi setiap beberapa waktu sekali di mana akan ada saham-saham yang dikeluarkan dari indeks, dan sebaliknya ada saham-saham yang dimasukkan ke dalam indeks, sehingga jumlahnya tetap 71 saham. Indeks IMI ini kemudian menjadi panduan bagi investor asing yang hendak berinvestasi di saham Indonesia, di mana mereka akan lebih memilih untuk membeli saham yang masuk indeks, ketimbang yang tidak.
Kemudian, salah satu pertimbangan utama MSCI ketika memilih saham untuk masuk indeks IMI adalah dengan melihat market cap-nya, di mana semakin besar market cap sebuah saham maka semakin besar peluangnya untuk masuk indeks, dan ini karena para fund manager asing dengan dana kelolaan jutaan hingga miliaran Dollar itu memang biasanya hanya mau masuk ke big caps, yakni saham dengan market cap $1 miliar (Rp16 triliun) atau lebih. Karena itulah, saham BREN, CUAN, dan PTRO otomatis menjadi kandidat kuat untuk masuk indeks, karena market cap mereka masing-masing mencapai puluhan hingga ratusan triliun Rupiah. Sehingga bahkan sebelum ketiganya benar-benar masuk indeks IMI, tapi sejumlah investor asing sudah lebih dulu membeli sahamnya.
![]() |
Daftar 10 saham terbesar dalam indeks MSCI, data per tanggal 31 Januari 2025 |
However, dengan kemarin MSCI menyatakan bahwa mereka tidak akan memasukkan saham BREN, CUAN, dan PTRO ke dalam indeks IMI, maka bagi investor asing itu sama seperti rekomendasi sell, dan alhasil mereka (dan mungkin investor domestik juga) ramai-ramai menjual sahamnya. Kemudian karena ketiganya memiliki market cap yang sangat besar, terutama BREN di mana market cap-nya sebelum turun mencapai lebih dari Rp1,000 triliun, maka jadilah penurunan ketiganya turut menyeret IHSG untuk ikut jeblok hingga lebih dari -3.0%, sebelum kemudian membaik hingga akhirnya hanya turun -1.9% ke posisi 6,724.
Sehingga sekarang kita ke pertanyaan kedua: Apa yang harus dilakukan jika saya pegang sahamnya? Nah, kebetulan baru saja tanggal 24 Januari kemarin, penulis menyampaikan bahwa kalau anda membeli saham-saham seperti BREN, CUAN, dan PTRO, yang memang tampak menarik karena ketiganya naik sangat tinggi dalam satu setengah tahun terakhir, maka itu lebih merupakan spekulasi high risk ketimbang investasi. Karena dengan valuasi yang amat sangat tinggi di mana PER BREN, CUAN, dan PTRO semuanya mencapai ratusan kali, aka jauh lebih mahal dibanding misalnya PER BBCA sebesar 21 kali (padahal valuasi BBCA juga terhitung premium dibanding saham blue chip lainnya), maka ketiga saham tersebut jelas tidak masuk kriteria value investing/analisa fundamental, sehingga mudah untuk anjlok lagi sewaktu-waktu, dan biasanya pula dengan persentase penurunan yang sangat besar. Contohnya seperti saham-saham bank digital yang sempat ramai di tahun 2021 lalu (ARTO, BBYB, BABP dst), yang pada hari ini sudah longsor -90% atau lebih dibanding posisi puncak mereka masing-masing. Sehingga, jika suatu hari nanti saham BREN yang anda pegang mulai turun maka segera jual, tak peduli posisinya profit atau cut loss, yakni untuk mencegah kerugian yang lebih besar. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
Okay Pak Teguh, jadi sarannya jual saja nih? Tapi gimana kalau BREN dkk ini besok-besok naik lagi? Well, tentu saja peluang kenaikan itu akan selalu ada, dan actually baru saja di bulan September 2024 lalu, saham BREN juga pernah anjlok dari 11,000 hingga 7,000 hanya dalam dua hari karena adanya laporan dari FTSE Russell, perusahaan sejenis MSCI namun asal Inggris, yang menyebut bahwa hanya 3% saham beredar BREN yang dipegang oleh investor publik, yang mana itu tidak sesuai kriteria FTSE tentang perusahaan publik yang layak investasi, serta melanggar aturan BEI itu sendiri yang mewajibkan minimal 7.5% saham perusahaan Tbk harus dimiliki oleh investor publik (aturan free float).
Dan meski setelah itu saham BREN sempat lanjut turun sampai mentok di 6,000 di bulan November, tapi setelah itu dia naik lagi, dan terus naik hingga kembali tembus 10,000 pada Januari kemarin, sebelum sekarang anjlok sekali lagi. Nah, jadi kalau pertanyaannya apakah setelah ini BREN akan lanjut turun atau bisa balik lagi ke 10,000-an, then I have absolutely no idea. Tapi yang pasti, bahkan setelah penurunannya kemarin maka valuasi BREN, CUAN, dan PTRO masih teramat sangat mahal. Sehingga kalau kita murni berpatokan pada analisa fundamental, maka tetap sahamnya tidak direkomendasikan.
Terakhir, mengingat kemarin IHSG juga turut jeblok ketika BREN dkk jeblok, maka bagaimana kira-kira nasib IHSG kedepannya? Apakah jika BREN lanjut turun dan imbasnya IHSG juga turun, maka itu akan bikin saham-saham lainnya di BEI akan ikut terseret turun semuanya? Nah, kabar baiknya ketika Jumat kemarin BREN dkk ini turun, maka coba cek: Lima saham terbesar yang masuk indeks IMI, yakni BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII, semuanya naik antara 1 – 4%, tak peduli meski IHSGnya turun hingga hampir -2%. Dan memang selama ini kalau anda perhatikan, ketika BREN dkk naik maka ratusan saham lainnya di BEI akan turun, tapi sebaliknya ketika BREN dkk turun maka ketika itulah BBRI dkk akan naik.
Sehingga, bahkan kalaupun IHSG kembali jeblok karena BREN
dkk lanjut turun, namun penulis tidak akan khawatir karena justru pada saat
itulah saham-saham berfundamental bagus, berprospek cerah, dan dengan valuasi yang
masih murah akan mendapat gilirannya untuk naik. Benar atau tidak, nanti kita
lihat perkembangannya dalam beberapa waktu ke depan.
***
Hingga akhir Januari 2025, Avere Investama mencatat kinerja profit +9.6% termasuk dividen berbanding kenaikan IHSG +0.4%, dihitung sejak awal tahun 2025. Untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang maka Anda bisa baca infonya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member, dan tersedia diskon selama IHSG masih di bawah 7,500.
Komentar